Wednesday, November 25, 2009

Puasa Arafah Didasarkan Wukuf atau Hari Arafah?

Puasa Arafah adalah puasa sunnah yang dilakukan pada hari Arafah. Apakah hari Arafah didasarkan atas penetapan pemerintah Saudi Arabia, terkait dengan pelaksanaan wukuf di Arafah, ataukah berdasarkan ketetapan pemerintah setempat?

Kesunnahan puasa Arafah bukan didasarkan adanya wukuf, tetapi karena datangnya hari Arafah tanggal 9 Dzulhijjah. Maka bisa jadi hari Arafah di Indonesia berbeda dengan di Saudi Arabia. Toleransi terhadap adanya perbedaan ini didasarkan atas hadits Sahabat Kuraib berikut ini:


عَنْ مُحَمَّدٍ بْنِ اَبِي حَرْمَلَةَ عَنْ كُرَيْبٍ: اَنَّ اُمَّ الْفَضْلِ بِنْتَ الْحَارِثِ بَعَثَتْهُ اِلَى مُعَاوِيَةَ باِلشَّامِ قاَلَ كُرَيْبٌ: فَقَدِمْتُ الشَّامَ فَقَضَيْتُ حَاجَتَهَا وَاسْتُهِلَّ عَلَيَّ رَمَضَانُ وَاَنَا باِلشَّامِ فَرَاَيْتُ الْهِلاَلَ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ ثُمَّ قَدِمْتُ الْمَدِيْنَةَ فِيْ اَخِرِ الشَّهْرِ فَسَأَلَنِي عَبْدُ اللهِ بْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ثُمَّ ذَكَرَ الْهِلاَلَ فَقَالَ: مَتىَ رَأَيْتُمُ الْهِلاَلَ؟ فَقُلْتُ: رَاَيْنَاهُ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ فَقَالَ: اَنْتَ رَاَيْتَهُ؟ فَقُلْتُ: نَعَمْ وَرَآهُ النَّاسُ وَصَامُوْا وَصَامَ مُعَاوِيَةُ فَقَالَ: لَكِنَّا رَاَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فَلاَ نَزَالُ نَصُوْمُ حَتىَّ نُكْمِلَ الثَّلاَثِيْنَ اَوْ نَرَاهُ فَقُلْتُ: اَوَ لاَ تَكْتَفِي بِرُؤْيَةِ مُعَاوِيَةَ وَ صِيَامِهِ؟ فَقَالَ: لاَ هَكَذَا اَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ

“Dari Muhammad bin Abi Harmalah dari Kuraib, bahwa Ummul Fadl binti al-Harits mengutus Kuraib menemui Mu’awiyah di Syam. Kuraib berkata: Aku tiba di Syam. Lalu aku tunaikan keperluan Ummul fadl. Dan terlihatlah hilal bulan Ramadlan olehku, sedang aku masih berada di Syam. Aku melihat hilal pada malam Jum’at. Kemudian aku tiba di Madinah di akhir bulan Ramadlan. Abdullah bin Abbas bertanya kepadaku, dan ia menyebut hilal. Ia berkata: “Kapan kamu melihat hilal?” Aku berkata: “Malam Jum’at.” Dia bertanya: “Apakah kamu sendiri melihatnya?” Aku menjawab: “Ya, dan orang-orang juga melihatnya. Mereka berpuasa, demikian juga Mu’awiyah.” Dia berkata: “Tetapi kami melihat hilal pada malam Sabtu, maka kami tetap berpuasa sehingga kami sempurnakan 30 hari atau kami melihat hilal”. Aku bertanya: “Apakah kamu tidak cukup mengikuti rukyah Mu’awiyah dan puasanya?” Lalu dia menjawab: “Tidak, demikianlah Rasulullah SAW menyuruh kami,” (HR. Muslim)

Berdasarkan dalil di atas maka rukyatul hilal atau observasi bulan sabit untuk menentukan awal bulan Qamariyah atau Hijriyah berlaku rukyat nasional, yakni rukyat yang diselenggarakan di dalam negeri dan berlaku satu wilayah hukum.

Di Indonesia, hasil penyelenggaraan rukyatul hilal, termasuk rukyat yang diadakan oleh Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) dilaporkan terlebih dahulu ke sidang itsbat (penetapan) yang dilakukan Departemen Agama RI, dengan tujuan agar keputusan itu berlaku bagi umat Islam di seluruh Indonesia.

Ketika para sahabat berhasil melihat hilal, tidak serta-merta mereka menetapkannya dan mengumumkan kepada masyarakat mendahului penetapan Rasulullah SAW. Hasil rukyat dilaporkan kepada Rasulullah SAW. Selanjutnya beliau sebagai Rasul Allah maupun sebagai kepala negara menetapkannya.

Itsbat adalah suatu terminologi fiqh untuk suatu penetapan negara tentang awal bulan Ramadlan, awal bulan Syawal, dan awal bulan Dzulhijjah. Di Indonesia wewenang itsbat didelegasikan kepada Menteri Agama RI. Menurut fiqh, itsbat harus didasarkan dalil rajih, yakni rukyatul hilal. Dalam mengambil itsbat, Menteri Agama RI menyelenggarakan sidang itsbat pada hari telah diselenggarakan rukyatul hilal, dan dihadiri anggota Badan Hisab Rukyat (BHR), wakil-wakil Ormas Islam, pejabat-pejabat terkait, dan para duta dari negara-negara sahabat.

Menteri Agama RI dalam itsbatnya didasarkan atas dasar rukyatul hilal dan hisab. Itsbat yang dikeluarkan oleh Menteri Agama RI berlaku bagi seluruh ummat Islam di seluruh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tanpa terkecuali. Perbedaan yang mungkin terjadi harus sudah selesai ketika itsbat dikeluarkan, sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW dan para sahabat. Setelah itsbat dilakukan baru diadakan ikhbar atau pengumuman awal bulan.

Dengan demikian penentuan awal bulan Qamariyah harus berdasarkan 4 aspek:

1. Aspek Syar’i, dalam bentuk pelaksanaan rukyatul hilal
2. Aspek Astronomis, dalam bentuk memperhatikan kriteria-kriteria imkanur rukyat tentang dzuhurul hilal (penampakan bulan sabit)
3. Aspek Geografis, dalam bentuk menerima rukyat nasional
4. Aspek Politis, yakni aspek intervensi negara dalam bentuk itsbat dalam kerangka wawasan NKRI dan mengatasi perbedaan

Perbedaan hasil rukyat di Indonesia dengan negara lain seperti Saudi Arabia tidaklah menjadi masalah, karena adanya perbedaan wilayah hukum (wilayatul hukmi), termasuk perbedaan dalam menentukan hari Arafah yang sedang kita bahas kali ini.

Adapun tentang keutamaan berpuasa hari Arafah tanggal 9 Dzulhijjah didasarkan pada hadits berikut ini:

صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ سَنَتَيْنِ مَاضِيَةً وَمُسْتَقْبَلَةً وَصَوْمُ عَاشُوْرَاَء يُكَفِّرُ سَنَةً مَاضِيَةً

“Puasa hari Arafah menebus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang dan puasa Asyura (10 Muharram) menebus dosa setahun yang telah lewat.” (HR Ahmad, Muslim dan Abu Daud dari Abi Qotadah)


KH A Ghazalie Masroeri
Ketua Pengurus Pusat Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU)

Thursday, November 19, 2009

KEUTAMAAN 10 HARI PERTAMA BULAN DZULHIJJAH DAN AMALAN YANG DISYARIATKAN

KEUTAMAAN 10 HARI PERTAMA BULAN DZULHIJJAH DAN AMALAN YANG DISYARIATKAN


Oleh
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin



Segala puji bagi Allah semata, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, Nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan segenap sahabatnya.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Rahimahullah, dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu 'Anhuma bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah ?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun".

Imam Ahmad, Rahimahullah, meriwayatkan dari Umar Radhiyallahu 'Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid".

MACAM-MACAM AMALAN YANG DISYARIATKAN

[1]. Melaksanakan Ibadah Haji Dan Umrah

Amal ini adalah amal yang paling utama, berdasarkan berbagai hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya, antara lain : sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:

"Artinya : Dari umrah ke umrah adalah tebusan (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah Surga".

[2]. Berpuasa Selama Hari-Hari Tersebut, Atau Pada Sebagiannya, Terutama Pada Hari Arafah.

Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadist Qudsi :

"Artinya : Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku".

Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun". [Hadits Muttafaq 'Alaih].

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Qatadah Rahimahullah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Berpuasa pada hari Arafah karena mengharap pahala dari Allah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya".

[3]. Takbir Dan Dzikir Pada Hari-Hari Tersebut.

Sebagaimana firman Allah Ta'ala.

"Artinya : .... dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan ...". [Al-Hajj : 28].

Para ahli tafsir menafsirkannya dengan sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut, berdasarkan hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu 'Anhuma.

"Artinya : Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir dan tahmid". [Hadits Riwayat Ahmad].

Imam Bukhari Rahimahullah menuturkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhuma keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orangpun mengikuti takbirnya. Dan Ishaq, Rahimahullah, meriwayatkan dari fuqaha', tabiin bahwa pada hari-hari ini mengucapkan :

"Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Ilallah, wa-Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamdu"

"Artinya : Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada Ilah (Sembahan) Yang Haq selain Allah. Dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji hanya bagi Allah".

Dianjurkan untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika berada di pasar, rumah, jalan, masjid dan lain-lainnya. Sebagaimana firman Allah.

"Artinya : Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu ...". [Al-Baqarah : 185].

Tidak dibolehkan mengumandangkan takbir bersama-sama, yaitu dengan berkumpul pada suatu majlis dan mengucapkannya dengan satu suara (koor). Hal ini tidak pernah dilakukan oleh para Salaf. Yang menurut sunnah adalah masing-masing orang bertakbir sendiri-sendiri. Ini berlaku pada semua dzikir dan do'a, kecuali karena tidak mengerti sehingga ia harus belajar dengan mengikuti orang lain.

Dan diperbolehkan berdzikir dengan yang mudah-mudah. Seperti : takbir, tasbih dan do'a-do'a lainnya yang disyariatkan.

[4]. Taubat Serta Meninggalkan Segala Maksiat Dan Dosa.

Sehingga akan mendapatkan ampunan dan rahmat. Maksiat adalah penyebab terjauhkan dan terusirnya hamba dari Allah, dan keta'atan adalah penyebab dekat dan cinta kasih Allah kepadanya.

Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu manakala seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Allah terhadapnya" [Hadits Muttafaq 'Alaihi].

[5]. Banyak Beramal Shalih.

Berupa ibadah sunat seperti : shalat, sedekah, jihad, membaca Al-Qur'an, amar ma'ruf nahi munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipat gandakan pahalanya. Bahkan amal ibadah yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah yang utama, sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang amat utama, kecuali jihad orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya.

[6]. Disyariatkan Pada Hari-Hari Itu Takbir Muthlaq

Yaitu pada setiap saat, siang ataupun malam sampai shalat Ied. Dan disyariatkan pula takbir muqayyad, yaitu yang dilakukan setiap selesai shalat fardhu yang dilaksanakan dengan berjama'ah ; bagi selain jama'ah haji dimulai dari sejak Fajar Hari Arafah dan bagi Jama’ah Haji dimulai sejak Dzhuhur hari raya Qurban terus berlangsung hingga shalat Ashar pada hari Tasyriq.

[7]. Berkurban Pada Hari Raya Qurban Dan Hari-hari Tasyriq.

Hal ini adalah sunnah Nabi Ibrahim 'Alaihissalam, yakni ketika Allah Ta'ala menebus putranya dengan sembelihan yang agung. Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Artinya : Berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu". [Muttafaq 'Alaihi].

[8]. Dilarang Mencabut Atau Memotong Rambut Dan Kuku Bagi Orang Yang Hendak Berkurban.

Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya, dari Ummu Salamah Radhiyallhu 'Anha bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Jika kamu melihat hilal bulan Dzul Hijjah dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya".

Dalam riwayat lain :

"Maka janganlah ia mengambil sesuatu dari rambut atau kukunya sehingga ia berkurban".

Hal ini, mungkin, untuk menyerupai orang yang menunaikan ibadah haji yang menuntun hewan kurbannya. Firman Allah.

"Artinya : ..... dan jangan kamu mencukur (rambut) kepalamu, sebelum kurban sampai di tempat penyembelihan...". [Al-Baqarah : 196].

Larangan ini, menurut zhahirnya, hanya dikhususkan bagi orang yang berkurban saja, tidak termasuk istri dan anak-anaknya, kecuali jika masing-masing dari mereka berkurban. Dan diperbolehkan membasahi rambut serta menggosoknya, meskipun terdapat beberapa rambutnya yang rontok.

[9]. Melaksanakan Shalat Iedul Adha Dan Mendengarkan Khutbahnya.

Setiap muslim hendaknya memahami hikmah disyariatkannya hari raya ini. Hari ini adalah hari bersyukur dan beramal kebajikan. Maka janganlah dijadikan sebagai hari keangkuhan dan kesombongan ; janganlah dijadikan kesempatan bermaksiat dan bergelimang dalam kemungkaran seperti ; nyanyi-nyanyian, main judi, mabuk-mabukan dan sejenisnya. Hal mana akan menyebabkan terhapusnya amal kebajikan yang dilakukan selama sepuluh hari.

[10]. Selain Hal-Hal Yang Telah Disebutkan Diatas.

Hendaknya setiap muslim dan muslimah mengisi hari-hari ini dengan melakukan ketaatan, dzikir dan syukur kepada Allah, melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan ; memanfaatkan kesempatan ini dan berusaha memperoleh kemurahan Allah agar mendapat ridha-Nya.

Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya dan menunjuki kita kepada jalan yang lurus. Dan shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad, kepada keluarga dan para sahabatnya.

[Artikel bahasa Arab dapat dilihat di http://www.saaid.net/mktarat/hajj/4.htm Disalin dari brosur yang dibagiakn secara cuma-cuma, tanpa no, bulan dan tahun]

Tuesday, November 3, 2009

Apakah uang bisa membahagiakan kehidupan kita ?



Apakah uang bisa membahagiakan kehidupan kita ?
Mungkin terbayang betapa bahagianya kita jika apa-apa yang kita impi-impikan dan cita-citakan semuanya telah berhasil kita gapai. Kita akan merasa bahagia bilamana membayangkan mempunyai pekerjaan tetap atau PNS karena sekarang sedang nganggur atau habis kena PHK, atau akan bahagia jikalau mempunyai Mercedes model terbaru karena mobil yang dipunyai sekarang adalah mobil butut yang sering mogok. Impian-impian atau harapan tersebut dapat diwujudkan seandainya kita punya uang. Dengan uang kita dapat memenuhi hampir segala kebutuhan dan keinginan kita.

Sebagian kita menganggap bahwa ada korelasi kuat antara uang dan bahagia. Jika anggapan diatas adalah salah, mungkin orang-orang akan malas bekerja keras, datang kantor lambat, melayani pelanggan apa adanya, ngapain sih kerja keras kalau tidak memperoleh kebahagiaan dari kerja tersebut, atau orang akan malas menabung kalau tidak ada manfaatnya.

Apa sih kebahagian itu ?
Kebahagiaan adalah pengalaman hidup yang ditandai dengan emosi positif yang kuat. Untuk memudahkan analogi kita tentang rasa bahagia, jika di skor skala antara 0 – 10 ( skor 5 adalah netral), yang namanya bahagia itu minimal skornya mendekati skor 7 atau lebih. Akan tetapi rasa bahagia ini adalah bersifat subyektif untuk kondisi yang sama belum tentu individu yang berbeda bisa mencapai kebahagiaan yang sama (subjective well-being – SWB). Emosi positif ini bisa dalam wujud yang beraneka ragam, misalnya : rasa sosial yang tinggi, rasa tolong menolong, rasa aman dan derajat kesehatan yang tinggi. Dari survey global (1999 – 2001) yang dilakukan oleh Ronald Inglehart dari 82 negara, diperoleh kesimpulan bahwa negara-negara yang tingkat kebahagian warga negaranya tinggi adalah Puerto Rico, Mexico, Denmark, Irlandia, Eslandia, and Swiss dan yang negara yang tingkat kebahagiaannya terendah salah satunya adalah Indonesia..(upss..Indonesia lagi)..semoga salah penelitian ini.

Benarkah dengan uang yang melimpah dapat mendatangkan kebahagiaan hidup ?
Kita bisa mengambil contoh di Uni Emirat Arab, dimana negara ini adalah termasuk negara teluk dengan penghasilan perkapita yang tergolong paling tinggi, siapakah yang berani mengambil kesimpulan bahwa mereka hidup lebih bahagia dari penduduk Negara tetangga yang lebih miskin atau ok..deh bandingkan dengan Indonesia ?
Dulu penduduk emirat sudah cukup berbahagia jika mereka udah kenyang perutnya dengan hanya makan kurma, sedikit gandum dan sedikit ikan sebelum adanya eksplorasi minyak. Sekarang penghasilan mereka naik mungkin 1000% tapi apakah kebahagiaan juga naik 10% atau 15% ? mungkin mereka sekarang lebih bahagia 2-3 kali lipat dibandingkan dengan jaman dulu? Tapi kayaknya nggak demikian karena kebahagiaan tidak bisa dimatematikakan. Pendapatan mungkin 500% meningkat tapi kebahagian tidaklah jauh berbeda dengan rasa bahagia orang-orang terdahulu.

Kok bisa gitu sih ?? masa sich ? jadi kelihatan paradoksal ya? Mungkin ini beberapa argumentasi kenapa kondisi paradoksal itu terjadi.

Sifat manusia yang selalu tidak pernah puas.Kita beranggapan jikalau kita mempunyai uang kita akan bahagia. Ternyata salah, semakin kita mempunyai uang lebih banyak, pilihan keinginan kita menjadi bertambah, sehingga kita tetap saja kekurangan uang.
Sekali kita mendapatkan kenikmatan, maka kenikmatan-kenikmatan berikutnya akan semakin menurun tingkat kepuasannya. Ketika mendapatkan uang lebih banyak, hal ini akan membahagiakan dalam jangka pendek, dan dengan cepat pula seseorang akan beradaptasi dengan kemampuan ekonomi yang baru sehingga kenikmatannya menjadi berkurang. Para ekonom menamakan kondisi ini dengan “hedonic treadmill.” Kita seolah-olah berlari kedepan akan tetapi kenyataannya kita tetap berlari ditempat.

Lebih banyak uang mendatangkan stres
Lebih banyak uang akan membuat kita lebih sibuk untuk menjaganya. Kalau-kalau ada orang yang berniat tidak baik terhadap kita. Perasaan yang muncul kemudian adalah perasaan was-was, tidak tenang serta stres.

Iri Hati, Selalu membandingkan dengan orang lain yang lebih makmur
Rumput tetangga akan lebih hijau dari rumput di rumah sendiri apalagi nggak ada rumput sama sekali. Perasaan membandingkan dengan orang yang lebih beruntung. Selalu muncul perasaan iri dengan keberhasilan orang lain, rasa bahagia berkurang bilamana ada tetangga yang lebih sukses darinya, pokoknya iri dech… (kasian dech yang suka ngiri)

Uang dan Teori Kebutuhan A. Maslow
Bagi teman-teman perawat mungkin masih ingat dengan teorinya ‘Hirarki Kebutuhan’ (A Maslow). Bahwa pada dasarnya kebutuhan itu ada lima tingkatan

Kebutuhan Fisiologis
Contohnya adalah : Sandang / pakaian, pangan / makanan, papan / rumah, dan kebutuhan biologis seperti buang air besar, buang air kecil, bernafas, dan lain sebagainya.
Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan
Contoh seperti : Bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dari teror, dan lain sebagainya.

Kebutuhan Sosial
Misalnya adalah : memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan cinta dari lawan jenis, dan lain-lain.

Kebutuhan Penghargaan
Contoh : pujian, piagam, tanda jasa, hadiah, dan banyak lagi lainnya.

Kebutuhan Aktualisasi DiriAdalah kebutuhan dan keinginan untuk bertindak sesuka hati sesuai dengan bakat dan minatnya.

Ternyata dari lima tingkat kebutuhan menurut A Maslow, kebutuhan yang paling dapat dipenuhi dengan uang adalah kebutuhan fisiologis saja, selebihnya peranan uang dalam memenuhi kebutuhan lainnya adalah tidak ada. Kita tidak bisa kita bebas dari rasa sakit kalau kita kaya raya atau kita tidak bisa membeli pertemanan semata-mata dengan uang. Nah bagaimana semangat kita dalam hal etos kerja produktif agar mendapatkan uang yang banyak ? Sebenarnya tidaklah salah dengan etos tersebut. Kredo rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya adalah salah satu hukum alam yang harus kita pelihara, karena kalau kita akan mencapai kualitas hidup yang bagus haruslah melalui proses tersebut. Sekarang yang perlu kita benahi adalah orientasi hidup kita, ternyata uang bukanlah segala-galanya untuk mencapai kebahagiaan. Uang memang penting tapi bukanlah yang utama sebagai modal mengisi hidup manusia. Masih banyak faktor lain yang mempunyai peranan besar dalam membantu manusia untuk mencapai kebahagiaan. Nah tujuan hidup kita yang harus kita tentukan karena itu akan menentukan kualitas pribadi kita.

Menurut Pakar, ada 4 kualitas manusia dalam kaitannya antara tujuan dan kepuasan/kebahagiaan hidup yang ingin dicapai seseorang.

Manusia ekonomi
Manusia pada level ini adalah manusia yang masih berambisi mengerjakan sesuatu karena berharap adanya imbalan baik intrinsik dan ekstrinsik. Bilamana imbalan tersebut diperoleh ia akan merasa puas, dan demikian pula sebaliknya.

Manusia Sosial
Manusia ini lebih tinggi jenjangnya daripada manusia ekonomi. Mereka akan merasa puas, bilamana adanya imbalan berupa sanjungan, rasa hormat dari lingkungan sosialnya, dan juga sebaliknya merasa kecewa bilamana harapannya dari lingkungannya tidak terpenuhi.

Manusia psikologis
Manusia ini adalah lebih tinggi dari level-level sebelumnya, karena kepuasan yang dia inginkan merupakan bentuk dari aktualisasi dirinya. Mereka akan merasa puas bilamana adanya tantangan dan mereka berhasil mengatasinya.

Manusia Religius : kebahagiaan : bahagia bila manusia lain bahagia
Manusia religius adalah jenjang tertinggi dari jenjang manusia sebelumnya. Mereka sudah terlepas dari ikatan-ikatan emosional dalam bentuk ekonomi, sanjungan, rasa hormat serta bentuk2 aktualisasi diri. Kalau jenjang manusia sebelumnya mereka mencari kepuasan diri, manusia religius berusaha menggapai kebahagiaan hidup, dengan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi manusia/makhluk lainnya. Jadi manusia religius akan merasa bahagia bilamana dia bisa membahagiakan manusia lainnya. Kemudian perbedaan lainnya antara kepuasan diri dan kebahagiaan adalah kalau kepuasan diri lebih bersifat short term dan akan cepat hilang bersamaan dengan berlalunya waktu, sedangkan kebahagiaan lebih bersifat long term. Sepanjang sesuatu yang diberikan masih bermanfaat maka rasa bahagia ini masih hadir.

Pada titik ini mungkin kita harus meredefinisi kembali arah tujuan dari perjalanan hidup kita. Uang bukanlah segala-galanya dalam memenuhi kebahagiaan kita, karena banyak faktor lain yang ikut peran dalam memberikan kebahagiaan. Jadi Tuhan memang adil, kebahagiaan tidak semata-mata menjadi milik orang kaya, orang lain pun bisa bahagia karena kalau bersyukur atas segala karunia dan nikmat yang diberikan oleh Nya. Mari kita renungkan kembali pepatah :

Money may be the husk of many things, but not the kernel.
It brings you food, but not appetite;
Medicine, but not health;
Acquaintances, but not friends;
Servants, but not faithfulness;
Days of pleasure, but not peace or happiness.


Dikutip dan diedit seperlunya dari Web Pengelola Keuangan.

Saturday, October 3, 2009

Muhasabah Pasca Gempa

Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam, keluarga, para shahabat dan pengikut setia mereka sampai hari kiamat. Amma ba’du.

Akhir-akhir ini kita sering menyaksikan terjadinya musibah di berbagai negeri belahan dunia termasuk di negeri kita Indonesia. Mulai dari tsunami, banjir, tanah longsor, gempa, dll. Sebagai muslim kita tentu merasa prihatin atas semua ini dan berusaha untuk membantu mereka semampu kita.


Semua kejadian ini bukanlah sekedar bencana alam biasa tanpa makna dan arti karena tidak mungkin Allah –subhanahu wa ta’ala menciptakan sesuatu yang sia-sia. Musibah-musibah ini menjadikan kita introspeksi bahwa kita adalah lemah dalam kekuasaan Allah–subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (Qs. An-Nisaa’: 28).

UJIAN ADALAH SUNNATULLAH

Setiap makhluk hidup pasti akan mendapatkan ujian dan cobaan berupa kesenangan dan kesusahan, kebaikan dan keburukan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Kami akan menguji kamu sekalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu sekalian dikembalikan.” (Qs. 21 Al-Anbiyaa’: 35)

Allah –subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (Qs. 7 Al-A’raaf: 168).

Yang dimaksud ujian yang baik-baik adalah: Ketaatan, hidayah, kesehatan, kedamaian, kekayaan, rumah tangga yang harmonis, keamanan dan segala yang menyenangkan kita.

Adapun ujian yang buruk-buruk adalah: Kemaksiatan, kesesatan, sakit, menderita, kesusahan, kemelaratan, rumah tangga yang tidak harmonis, ketakutan dan segala yang tidak menyenangkan kita.

Umar bin Al-Khaththab –radhiallahu anhu berkata: “Semua yang tidak menyenangkanmu adalah musibah.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dll, sahih)

Tujuan utama dari semua ujian dan cobaan ini adalah agar supaya kita kembali kepada Allah –subhanahu wa ta’ala dengan selalu berbuat taat, bertaubat dari semua maksiat dan tidak melakukannya lagi.

MENGAPA TERJADI GEMPA?

Ibnul Qayyim –rahimahullah dalam kitabnya Ad-Da’ Wa Ad-Dawa’ menyebutkan riwayat-riwayat berikut ini (hlm 72-74): Ibnu Abi Ad-Dunya –rahimahullah meriwayatkan dari Anas bin Malik –radhiallahu anhu, bahwasanya beliau dan seorang lagi masuk menemui ibunda ‘Aisyah –radhiallahu anha, lalu orang tersebut berkata: “Wahai Ummul Mukminin! Beritahukanlah kepada kami tentang gempa.” Ibunda ‘Aisyah –radhiallahu anha menjawab: “Apabila mereka telah memperbolehkan perzinahan, meminum khamer, memainkan alat musik, maka Allah –subhanahu wa ta’ala marah di langit-Nya dan berfirman kepada bumi: 'Bergoncanglah atas mereka!' Jika mereka bertaubat dan meninggalkan perbuatan tersebut (berhentilah), jika tidak, maka hancurkanlah mereka!” Orang tersebut berkata: “Wahai Ummul Mukminin! Apakah itu adzab atas mereka?” Beliau menjawab: “Itu adalah peringatan dan rahmat bagi orang-orang beriman, dan hukuman, adzab serta murka atas orang-orang kafir.”
Berkata Anas –radhiallahu anhu: “Aku tidak pernah mendengar hadis sepeninggal Rasulullah –sallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam yang lebih menyenangkanku daripada hadis ini.”

Imam Ahmad bin Hanbal –rahimahullah meriwayatkan dari Shafiyyah –radhiallahu anha, beliau berkata: “Bumi bergoncang di Madinah pada masa Umar –radhiallahu anhu, lalu beliau berkata: 'Wahai manusia! Ada apa ini? Alangkah cepat penyimpanganmu! Kalau sekiranya bumi telah kembali seperti semula aku tidak akan tinggal bersamamu di sana.'"

Berkata Ka’ab –rahimahullah: “Sesungguhnya terjadinya gempa bumi adalah apabila dilakukan kemaksiatan di atasnya, lalu bumipun bergetar takut apabila Allah-subhanahu wa ta’ala mengetahuinya.” (Riwayat-riwayat diatas tidak diberi komentar oleh pentahqiq kitab tersebut Syaikh Ali Hasan)

BAHAYA PERBUATAN DOSA DAN MAKSIAT

Perbuatan dosa dan maksiat adalah sangat berbahaya, bahayanya bagi hati adalah ibarat bahaya racun terhadap tubuh. Semua kerusakan, bencana dan penyakit yang terjadi di dunia dan akhirat adalah disebabkan oleh dosa dan maksiat. Perbuatan dosa dan maksiat mendatangkan bencana, merubah karunia, menurunkan bala’ dan menghalangi doa.

Apa yang menyebabkan iblis dikeluarkan dari surga, diusir dan dilaknat? Apa yang menyebabkan penduduk bumi di tengelamkan pada masa Nabi Nuh –alaihis salam? Apa yang menyebabkan kaum ‘Ad dihancurkan oleh angin? Apa yang menyebabkan dibinasakannya kaum Luth –alaihis salam? Apa yang menyebabkan tenggelamnya Fir’aun dan kaumnya? Apa yang menjadikan Qorun dibenamkan ke dalam bumi beserta semua harta dan keluarganya? Dst.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (Qs. An-Nahl: 112)

Allah –subhanahu wa ta’ala berfirman: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Q. Ar-Ruum: 41)

Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dari Ummu Salamah radhiallahu anha, beliau berkata, aku telah mendengar Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda: “Apabila terjadi kemaksiatan pada umatku, pasti Allah –subhanahu wa ta’ala mengirimkan adzab dari sisiNya kepada mereka semua.”
Ummu Salamah –radhiallahu anha bertanya: “Wahai Rasulullah! Apakah tidak ada orang baik pada mereka saat itu?”
Beliau –sallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam menjawab: “Ya, ada.”
Ummu Salamah –radhiallahu anha bertanya lagi: “Bagaimana dengan mereka?”
Beliau menjawab: “Mereka terkena sebagaimana manusia lain, kemudian mereka mendapat ampunan dan keridhaan Allah –subhanahu wa ta’ala.”

MUHASABAH

Marilah kita semua melakukan muhasabah atau introspeksi atas semua perbuatan yang kita lakukan, apakah perbuatan tersebut telah benar ataukah belum? Apakah kita telah meninggalkan kemaksiatan-kemaksiatan ataukah masih terus menerus melakukannya?

Ada empat tingkatan dosa yang harus kita hindari:

(1) Syirik atau menyekutukan Allah –subhanahu wa ta’ala. Ini adalah dosa yang paling besar dan Allah –subhanahu wa ta’ala tidak akan mengampuni apabila pelakunya meninggal dunia dalam keadaan belum bertaubat. Allah –subhanahu wa ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (Qs. An-Nisaa’: 48). Alangkah banyak kesyirikan ada masa sekarang?

(2) Bid’ah atau penyimpangan dalam beragama yang menyelisihi Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam, baik penyimpangan dalam aqidah atau amaliah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Katakanlah: Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (Qs. Al-Kahfi: 103-104)

(3) Kedhaliman-kedhaliman, yaitu dosa-dosa yang berupa kedhaliman dan ada keterkaitan dengan orang lain, seperti mengambil harta orang lain tanpa hak, memfitnah orang lain dll. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang dhalim.” (Qs. Ali ‘Imran: 57)

(4) Kemaksiatan-kemaksiatan yang berhubungan dengan Allah subhanahu wa ta’ala selain ketiga di atas. Allah –subhanahu wa ta’ala berfirman tentang ahli surga: “Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan- perbuatan keji.” (Qs. Asy-Syura: 37)

Bagi orang-orang yang membantu dan memberikan sumbangan kepada mereka yang tertimpa musibah hendaklah ikhlas dalam memberikan semua itu dan semata-mata karena Allah subhanahu wa ta’ala dan mengharap ridhaNya, karena Allah subhanahu wa ta’ala tidak menerima amal apapun kecuali yang ikhlas dan mengharapkan ridha-Nya.
Rasulullah –sallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda: “Allah tidak akan menerima amalan kecuali yang ikhlas dan hanya mengharapkan wajahNya.” (HR. An-Nasa’i dengan sanad hasan)

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kepada kita semua pahala dan balasan kebaikan, amien ya Robbal ‘alamin.

Maraji’:



1.Al-Qur’an dan Tejemahnya.
2.Ad-Da’ Wa Ad-Dawa’, Ibnul Qayyim. Tahqiq, ta’liq dan takhrij Ali bin Hasan bin Ali bin Abdil Hamid Al-Halabi Al-Atsari. Cetakan ketiga th 1419H / 1998M. Penerbit Dar Ibnil Jauzi KSA.
3.Tazkiyatun Nufus, Syaikh Ahmad Farid. Edisi Revisi Hanya Memuat Hadis-Hadis Sahih, Cetakan th 1419 H / 1998M. Penerbit Dar Al-Aqidah Litturats, Iskandariyah.
4.Tuhfatul Maridh, Abdullah bin Ali Al-Ju’aitsin. Cetakan pertama th 1415 H / 1994 M. Penerbit Dar Al-Wathan Riyadh KSA. Dll.
***

Penulis: Ustadz Abdullah Shaleh Hadrami
Artikel www.PengusahaMuslim.com


Thursday, September 17, 2009

TAKBIR PADA IDUL FITHRI DAN IDUL ADHA

TAKBIR PADA IDUL FITHRI DAN IDUL ADHA

Oleh
Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al Halabi Al Atsari

Allah Ta'ala berfirman :

"Artinya : Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, mudah-mudahan kalian mau bersyukur".

Telah pasti riwayat bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :

"Artinya : Beliau keluar pada hari Idul fitri, maka beliau bertakbir hingga tiba di mushalla (tanah lapang), dan hingga ditunaikannya shalat. Apabila beliau telah menunaikan shalat, beliau menghentikan takbir"[1]



Berkata Al-Muhaddits Syaikh Al Albani :

"Dalam hadits ini ada dalil disyari'atkannya melakukan takbir secara jahr (keras/bersuara) di jalanan menuju mushalla sebagaimana yang biasa dilakukan kaum muslimin. Meskipun banyak dari mereka mulai menganggap remeh sunnah ini hingga hampir-hampir sunnah ini sekedar menjadi berita ...

Termasuk yang baik untuk disebutkan dalam kesempatan ini adalah bahwa mengeraskan takbir disini tidak disyari'atkan berkumpul atas satu suara (menyuarakan takbir secara serempak dengan dipimpin seseorang -pent) sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang. Demikian pula setiap dzikir yang disyariatkan untuk mengeraskan suara ketika membacanya atau tidak disyariatkan mengeraskan suara, maka tidak dibenarkan berkumpul atas satu suara seperti yang telah disebutkan. Hendaknya kita hati-hati dari perbuatan tersebut[2], dan hendaklah kita selalu meletakkan di hadapan mata kita bahwa sebaik-baik petunjuk adalah petunjuknya Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam".

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya tentang waktu takbir pada dua hari raya, maka beliau rahimahullah menjawab :

"Segala puji bagi Allah, pendapat yang paling benar tentang takbir ini yang jumhur salaf dan para ahli fiqih dari kalangan sahabat serta imam berpegang dengannya adalah : Hendaklah takbir dilakukan mulai dari waktu fajar hari Arafah sampai akhir hari Tasyriq ( tanggal 11,12,13 Dzulhijjah), dilakukan setiap selesai mengerjakan shalat, dan disyariatkan bagi setiap orang untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika keluar untuk shalat Id. Ini merupakan kesepakatan para imam yang empat". [Majmu Al -Fatawa 24/220 dan lihat 'Subulus Salam' 2/71-72]

Aku katakan : Ucapan beliau rahimahullah : '(dilakukan) setelah selesai shalat' -secara khusus tidaklah dilandasi dalil. Yang benar, takbir dilakukan pada setiap waktu tanpa pengkhususan.

Yang menunjukkan demikian adalah ucapan Imam Bukhari dalam kitab 'Iedain dari "Shahih Bukhari" 2/416 : "Bab Takbir pada hari-hari Mina, dan pada keesokan paginya menuju Arafah".

Umar Radliallahu 'anhu pernah bertakbir di kubahnya di Mina. Maka orang-orang yang berada di masjid mendengarnya lalu mereka bertakbir dan bertakbir pula orang-orang yang berada di pasar hingga kota Mina gemuruh dengan suara takbir.

Ibnu Umar pernah bertakbir di Mina pada hari-hari itu dan setelah shalat (lima waktu), di tempat tidurnya, di kemah, di majlis dan di tempat berjalannya pada hari-hari itu seluruhnya.

Maimunnah pernah bertakbir pada hari kurban, dan para wanita bertakbir di belakang Aban bin Utsman dan Umar bin Abdul Aziz pada malam-malam hari Tasyriq bersama kaum pria di masjid".

Pada pagi hari Idul Fitri dan Idul Adha, Ibnu Umar mengeraskan takbir hingga ia tiba di mushalla, kemudian ia tetap bertakbir hingga datang imam. [Diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni, Ibnu Abi Syaibah dan selainnya dengan isnad yang shahih. Lihat "Irwaul Ghalil' 650]

Sepanjang yang aku ketahui, tidak ada hadits nabawi yang shahih tentang tata cara takbir. Yang ada hanyalah tata cara takbir yang di riwayatkan dari sebagian sahabat, semoga Allah meridlai mereka semuanya.

Seperti Ibnu Mas'ud, ia mengucapkan takbir dengan lafadh :

Allahu Akbar Allahu Akbar Laa ilaha illallaha, wa Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamdu.

"Artinya : Allah Maha Besar Allah Maha Besar, Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, Allah Maha Besar Allah Maha Besar dan untuk Allah segala pujian". [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/168 dengan isnad yang shahih]

Sedangkan Ibnu Abbas bertakbir dengan lafadh.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, wa lillahil hamdu, Allahu Akbar, wa Ajalla Allahu Akbar 'alaa maa hadanaa.
"Artinya : Allah Maha Besar Allah Maha Besar Allah Maha Besar dan bagi Allah lah segala pujian, Allah Maha Besar dan Maha Mulia, Allah Maha Besar atas petunjuk yang diberikannya pada kita". [Diriwayatkan oleh Al Baihaqi 3/315 dan sanadnya shahih]

Abdurrazzaq[3] -dan dari jalannya Al-Baihaqi dalam "As Sunanul Kubra" (3/316)- meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Salman Al- Khair Radliallahu anhu, ia berkata :

"Artinya : Agungkanlah Allah dengan mengucapkan : Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar kabira".

Banyak orang awam yang menyelisihi dzikir yang diriwayatkan dari salaf ini dengan dzikir-dzikir lain dan dengan tambahan yang dibuat-buat tanpa ada asalnya. Sehingga Al-Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam "Fathul Bari (2/536) :

"Pada masa ini telah diada adakan suatu tambahan[4] dalam dzikir itu, yang sebenarnya tidak ada asalanya".

[Disalin dari buku Ahkaamu Al'Iidaini Fii Al Sunnah Al Muthahharah, edisi Indonesia Hari Raya Bersama Rasulullah, oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid al-Halabi Al-Atsari hal. 19-22, terbitan Pustaka Al-Haura', penerjemah Ummu Ishaq Zulfa Husein]
_________
Foote Note.
[1]. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam "Al-Mushannaf" dan Al-Muhamili dalam "Kitab Shalatul 'Iedain" dengan isnad yang shahih akan tetapi hadits ini mursal. Namun memiliki pendukung yang menguatkannya. Lihat Kitab "Silsilah Al Hadits As-Shahihah" (170). Takbir pada Idul Fithri dimulai pada waktu keluar menunaikan shalat Ied
[2]. Silsilah Al Hadits As-Shahihah 91/121) Syaikh Al Alamah Hamud At-Tuwaijiri rahimahullah memiliki risalah tersendiri tentang pengingkaran takbir yang dilakukan secara berjamaah. Risalah ini sedang di cetak.
[3]. Aku tidak melihatnya dalam kitabnya "Al Mushannaf".
[4]. Bahkan tambahan yang banyak !!

Wednesday, September 16, 2009

LAILATUR QADAR

LAILATUR QADAR
Keutamaan Lailatul Qadar ini sangat besar karena malam kesaksian turunnya Alquran, mengantarkan orang yang berpegang padanya ke jalan keagungan dan kemuliaan, serta mengangkatnya ke puncak ketinggian dan keabadian. Umat Islam yang selalu mengikuti sunah Rasulullah saw selangkah demi selangkah tidak perlu mengibarkan bendera atau membangun gapura besar untuk menyambut malam tersebut, tetapi dia hanya perlu berlomba-lomba untuk bangun malam dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala.

Berikut ini, wahai saudaraku, beberapa ayat Alquran dan juga hadis-hadis Nabi yang permanen yang disebutkan berkenaan dengan Lailatul Qadar ini, yang dapat diuraikan sebagai berikut.

1. Keutamaan Lailatul Qadar

Lailatul Qadar ditetapkan mempunyai nilai yang lebih baik daripada seribu bulan. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Alquran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Rabnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampati terbit fajar." (Al-Qadr: 1--5).

Pada malam itu semua urusan dipecahkan dengan penuh kebijaksanaan. Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkati dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh kebijaksanaan, yaitu urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya kami adalah yg mengutus para rasul, sebagai rahmat dari Rabmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui." (Ad-Dukhan: 3--6).

2. Waktu Lailatul Qadar

Diriwayatkan dari Nabi saw. bahwa waktu Lailatul Qadar itu jatuh pada malam ke-21, ke-23, ke-25, ke-27, atau ke-29, serta malam terakhir dari bulan Ramadan.

Imam Syafifi (semoga Allah merahmatinya), Mengatakan, "Menurut saya, wallahu a'lam, seakan-akan Nabi memberikan jawaban atas apa yang ditanyakan kepada beliau. Ditanyakan kepada beliau, 'Apakah kita bisa mendapatkannya pada malam anu?' Beliau menjawab, 'Capailah Lailatul Qadar itu pada malam anu'."

Pendapat yang paling rajih adalah pendapat yang menyebutkan bahwa Lailatul Qadar itu jatuh pada malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadan. Hal tersebut telah ditunjukkan oleh hadis Aisyah r.a. yang menceritakan, "Rasulullah selalu bangun pada sepuluh malam terakhir pada bulan Ramadan seraya berkata, 'Dapatkanlah (dalam sebuah riwayat disebutkan: carilah) Lailatul Qadar pada malam ganjil dari sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadan. (HR Bukhari dan Muslim).

Jika seorang hamba tidak mampu, jangan sampai tertinggal untuk mengejar tujuh malam terakhir. Hal itu sesuai dengan apa yang diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a., yang bercerita, Rasulullah saw. pernah bersabda, "Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir. Jika salah seorang di antara kalian tidak mampu atau lemah, maka hendaklah dia tidak ketinggalan untuk mengejar tujuh malam yang tersisa." (HR Bukhari dan Muslim).

Hal itu menafsirkan sabda Rasulullah saw., "Aku melihat pandangan kalian telah lemah. Oleh karena itu, barang siapa yang hendak mencarinya, maka hendaklah dia mencarinya pada tujuh malam terakhir."

Sebagaimana diketahui dari sunah bahwa pengetahuan mengenai Lailatul Qadar ini tidak diberikan karena manusia saling berselisih. Dari Ubadah bin Ash-Shamit r.a., dia bercerita, "Nabi saw. pernah keluar rumah pada (malam) Lailatul Qadar, lalu ada dua orang muslim yang berselisih, maka beliau bersabda, 'Sesungguhnya aku keluar untuk memberi tahu kalian mengenai Lailatul Qadar,' lalu si Fulan dan si Fulan berselisih sehingga pengetahuannya tidak diberikan. Mudah-mudahan hal tersebut lebih baik bagi kalian. Oleh karena itu, carilah pada malam ke-9, ke-7, dan ke-5 (dan dalam riwayat lain disebutkan: pada malam ke-7, ke-9, dan ke-5)." (HR Bukhari).

Peringatan: ada beberapa hadis yang menunjukkan bahwa Lailatul Qadar itu jatuh pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan. Ada juga pendapat lain yang menyebutkan bahwa Lailatur Qadar itu jatuh pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir. Yang pertama bersifat umum, sedangkan pendapat kedua bersifat khusus. Yang khusus didahulukan dari yang bersifat umum. Ada beberapa hadis lain yang menunjukkan bahwa Lailatur Qadar itu jatuh pada tujuh malam yang tersisa, dan yang ini terikat kepada ketidakmampuan dan kelemahan sehingga tidak ada masalah. Di sini hadis-hadis tersebut berkesesuaian dan tidak bertentangan, sepakat dan tidak bertolak belakang.

Ringkas kata bahwa seorang muslim mencari Lailatur Qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan, yaitu malam ke-21, ke-23, ke-25, ke-27, atau ke-29. Jika seseorang tidak mampu atau lemah untuk mengejarnya pada malam-malam ganjil terakhir, maka hendaklah dia mengejarnya pada tujuh malam ganjil yang tersisa, yaitu malam ke-25, ke-27, dan ke-29. wallahu a'lam.

3. Bagaimana Seorang Muslim Mendapatkan Lailatul Qadar?

Orang yang diharamkan mendapatkan malam yang penuh berkah itu berarti dia telah diharamkan dari semua kebaikan, dan tidaklah seseorang diharamkan dari kebaikannya, melainkan dia benar-benar merugi. Oleh karena itu, dianjurkan kepada orang muslim yang benar-benar taat kepada Allah untuk menghidupkan Lailatur Qadar dengan penuh keimanan dan penuh harapan akan pahalanya yang besar. Jika dia mengerjakan hal tersebut, niscaya Allah akan memberikan ampunan kepadanya atas dosa-dosa yang lalu. Rasulullah saw. bersabda, "Barang siapa mendirikan ibadah pada (malam Lailatur Qadar dengan penuh keimanan dan harapan akan pahala, maka akan diberikan ampunan kepadanya atas dosa-dosanya yang telah berlalu." (HR Bukhari dan Muslim).

Disunahkan untuk membaca doa sekaligus memperbanyaknya. Telah diriwayatkan dari Aisyah r.a., dia bercerita, "Pernah kutanyakan, 'Wahai Rasulullah, bagaimana pandanganmu jika aku mendapatkan Lailatur Qadar, apa yang mesti aku ucapkan?' Beliau bersabda, 'Bacalah: Allaahumma innaka 'afuwun, tuhibbul 'afwa fa'fu 'annii (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, yang mencintai maaf. Karena itu, berilah maaf kepadaku)'." (HR Tirmizi dan Ibnu Majah).

Saudaraku, mudah-mudahan Allah memberi berkah dan petunjuk kepada Anda untuk senantiasa taat kepada-Nya, kini Anda telah mengetahui hakikat Lailatur Qadar ini. Oleh karena itu, berusahalah untuk bangun malam pada sepuluh malam terakhir pada bulan Ramadan, dan menghidupkannya dengan ibadah serta meninggalkan hubungan suami-istri. Perintahkanlah keluargamu untuk melakukan hal yang sama serta perbanyaklah ketaatan pada malam tersebut.

Dari Aisyah r.a., dia bercerita, "Jika memasuki sepuluh malam terakhir, Nabi memperkuat ikatan kainnya (maksudnya, menghindari campur dengan istri dalam rangka meningkatkan ibdah serta berusaha keras untuk mencari Lailatur Qadar) sambil menghidupkan malam itu serta membangunkan keluarganya." (HR Bukhari dan Muslim). Masih dari Aisyah r.a., "Rasulullah berusaha keras pada sepuluh malam terakhir, yang tidak beliau lakukan pada bulan-bulan lainnya." (HR Muslim).

Di Nukil dari: Syekh Salim bin Ied al-Hilali dan Syekh Ali Hasan Ali Abdul Hamid